Deteksi Dini Diabetes

Deteksi dini Diabetes Mellitus tipe 1 (DM tipe 1) merupakan hal penting yang harus dilakukan untuk menghindari kesalahan atau keterlambatan diagnosis yang dapat mengakibatkan kematian. DM tipe 1 yang menyerang anak-anak sering tidak terdiagnosis oleh dokter karena gejala awalnya yang tidak begitu jelas dan pada akhirnya sampai pada gejala lanjut dan traumatis seperti mual, muntah, nyeri perut, sesak nafas bahkan koma. Dengan deteksi dini, pengobatan dapat dilakukan sesegera mungkin terhadap penyandang DM tipe 1 sehingga dapat menurunkan resiko kecacatan dan kematian.

Diabetetes penyakit global

“Penyakit kronik pada anak merupakan isu global yang menjadi perhatian akhir-akhir ini. Kejadian penyakit kronik pada anak semakin meningkat tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di negara berkembang seperti Indonesia. Beban yang menghadang negara berkembang justru lebih berat karena selain menghadapi peningkatan kasus penyakit kronik pada anak, kita pun masih berhadapan dengan tingginya kejadian penyakit menular (infeksi). Hal inilah yang mengakibatkan kurangnya perhatian dari berbagai pihak terhadap penyakit kronik anak. Salah satu penyakit kronik yang kejadiannya semakin meningkat adalah Diabetes mellitus (DM),” demikian dikatakan dr. Badriul Hegar, SP.A(K), Ph.D, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP-IDAI) dalam sambutannya pada Seminar Media yang diselenggarakan oleh IDAI dan World Diabetes Foundation (WDF) hari ini.

Diabetes penyakit metabolik

DM merupakan suatu penyakit metabolik yang bersifat kronis serta berpotensi mengganggu pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Falsafah dasar dalam tata laksana penyakit DM adalah kedisiplinan dan keteraturan dalam pengobatan dan pola hidup sehari-hari. Selain itu, anak juga mempunyai kebutuhan khusus akan kasih sayang, aturan, dan pendidikan (asah) dalam proses perkembangan dirinya, sehingga penatalaksanaan DM pada anak membutuhkan pendekatan yang komprehensif dari berbagai profesional di bidang kesehatan anak.

Namun demikian, berbagai masalah psikososial seringkali menjadi sumber ketidakmampuan penyandang DM untuk menjalankan kedisiplinan guna mencapai kontrol metabolik yang baik. Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat kita pada umumnya dan masyarakat penyandang DM pada khususnya, mengenai penyakit DM juga merupakan tantangan yang tak dapat kita pungkiri. Masalah psikososial dan rendahnya pengetahuan ini dapat menyebabkan timbulnya sikap menolak (rejection) pada diri penyandang, keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Hal ini wajar akan muncul pada setiap penyandang penyakit yang kronis, berat atau sifatnya terminal. Sifat ini akan menyebabkan menurunnya motivasi dan fighting spirit pada penyandang DM untuk terus berusaha maksimal mengendalikan DM-nya, agar dapat hidup sehat dan bahagia meskipun menyandang DM.

“Masyarakat dihimbau untuk waspada terutama bagi orang tua yang anaknya menunjukkan gejala-gejala seperti sering buang air kecil, peningkatan rasa haus dan lapar, cepat lelah, turunnya berat badan, sesak nafas, nafas anak berbau asam/aseton, adanya infeksi jamur pada kulit, penglihatan kabur, muntah atau sakit perut sebaiknya segera berkonsultasi kepada dokter. Penting pula untuk dicatat, bahwa anak dengan DM tipe 1 yang mengalami komplikasi dapat memiliki gejala yang mirip dengan gejala usus buntu seperti sakit perut, muntah, kesadaran menurun/koma, dan lain sebagainya. Namun berbeda dengan gejala usus buntu, gejala Diabetes tipe 1 pada anak mempunyai ciri khas yaitu nafas si anak berbau asam/aseton,” dikatakan dr. Aman Bhakti Pulungan, SP.A(K), Project Manager program WDF “Integrated and Comprehensive Management of Type 1 Diabetes Mellitus in Indonesia” sekaligus Ketua dari Perhimpunan Ahli endokrinologi Anak Asia Pasifik (Asia Pasific Pediatric Endocrinology Society/APPES) pada kesempatan yang sama hari ini.

Tren Diabetes Anak

Diabetes pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling serius di abad ini dan sebenarnya sudah menjadi masalah dunia lebih dari 25 tahun lamanya. Diabetes tipe 1 pada anak bukan hanya masalah gen dan lingkungan, pola makan dan aktivitas dan karenanya deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat diperlukan,” lanjutnya, seraya menambahkan, “Indonesia memang belum memiliki angka insidens yang pasti mengenai kejadian DM tipe 1 pada anak. Tetapi, apabila kita merujuk pada angka kejadian di negara tetangga dengan latar belakang etnis dan kultural yang hampir sama seperti Singapura dan Malaysia, perkiraan insidensi kita adalah 0,3 per 100.000 anak per tahunnya. Dengan jumlah anak mencapai 83 juta dari keseluruhan populasi, seharusnya 240 kasus baru DM tipe 1 akan muncul di Indonesia tiap tahunnya. Angka yang saat ini tidak terdata karena kurangnya kewaspadaan semua pihak mengenai DM tipe 1 pada anak.”

Angka kejadian DM tipe 1 di Indonesia belum diketahui pasti karena data statistik yang tidak memadai. Setelah melakukan pendataan pasien di seluruh Indonesia selama 2 tahun, Unit Kelompok Kerja (UKK) Endokrinologi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendapatkan 674 data penyandang DM tipe 1 di Indonesia. Data ini diperoleh melalui kerja sama berbagai pihak di seluruh Indonesia mulai dari para dokter anak, endokrinolog anak, sepsialis penyakit dalam, perawat edukator DM, data ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Mellitus Anak dan Remaja (IKADAR), penelusuran dari catatan medis pasien, dan juga kerja sama dengan perawat edukator National University Hospital Singapura untuk memperoleh data penyandang DM anak Indonesia yang menjalani pengobatannya di Singapura.

“Orang tua harus mewaspadai hal ini, karena anak-anak penyandang DM tipe 1 rentan terhadap komplikasi penyakit ini. Dalam jangka pendek komplikasi yang dikhawatirkan muncul adalah hiperglikemia atau hipoglikemia. Pada kondisi hiperglikemia, kadar gula dalam darah terlalu banyak, sebaliknya pada kondisi hipoglikemia tubuh kekurangan kadar gula dalam darah. Di samping itu, anak dengan DM tipe 1 juga bisa mengalami ketoasidosis. Ketoasidosis adalah suatu kondisi yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan baik. Kondisi ini terjadi apabila kelebihan gula dalam tubuh terlalu berat sehingga dibentuk zat sampingan oleh tubuh berupa keton. Keton mengakibatkan darah menjadi asam dan dapat meracuni otak hingga kesadaran pasien akan menurun. Kalau kondisi ini tidak ditangani dengan baik, maka anak tersebut dapat mengalami koma diabetik, bahkan dapat mengakibatkan kematian” ditekankan dr. Aman.

DM tipe 1 yang menyerang anak-anak adalah kelainan sistemik yang terjadi akibat gangguan metabolisme glukosa yang ditandai oleh hiperglikemia kronik. Keadaan ini diakibatkan oleh kerusakan sel penghasil insulin di kelenjar liur lambung (pankreas) sehingga produksi insulin berkurang bahkan terhenti. Insulin adalah hormon penting yang berperan dalam menjaga keseimbangan gula dalam tubuh. Penyakit DM tipe 1 disebabkan oleh proses autoimunne, yaitu suatu keadaan di mana terjadi kerusakan sistem imunitas tubuh, sehingga tubuh menghasilkan zat anti terhadap sel penghasil insulin. Proses ini diketahui terkait dengan kerusakan gen tertentu yang dapat diturunkan dari orang tua kepada anak (hanya 10% kasus) atau kerusakan gen yang terjadi spontan (akibat infeksi, polusi, radiasi, konsumsi obat, dan lain sebagainya). Oleh karena itu, penyakit DM tipe 1 pada anak merupakan penyakit yang tidak dapat dicegah dan sangat sulit untuk diketahui sejak dini sebelum timbulnya gejala klinis seperti yang telah diuraikan pada paragraf sebelumnya.

DM tipe 1 bisa terjadi pada anak tanpa memandang usia. Data yang terkumpul di UKK Endokrin Anak saat ini menunjukkan bahwa anak Indonesia paling banyak terdiagnosis DM tip 1 pada usia 10 – 15 tahun. Dengan total populasi penduduk Indonesia mencapai 267.556.363 (data hasil sensus penduduk 2010), dan lebih dari 83 juta di antaranya adalah anak-anak. Kami yakin bahwa data yang telah terkumpul ini hanyalah permukaan gunung es yang belum menggambarkan kondisi yang sesungguhnya terjadi di Indonesia. Sangatlah mungkin bahwa di luar sana banyak anak penyandang DM tidak terdiagnosis atau bahkan meninggal tanpa pernah diketahui menyandang DM karena kurangnya pengetahuan semua pihak (mulai dari dokter, perawatan, tenaga medis lainnya dan masyarakat itu sendiri).

Pengelolaan DM tipe 1 merupakan satu sistem komprehensif yang meliputi pemberian insulin, pengaturan makan, olahraga, pemantauan rutin (monitoring) dan edukasi. Di samping itu, penyandang DM tipe 1 harus melakukan kontrol secara rutin. “Kontrol merupakan hal penting yang harus dilakukan. Walaupun Diabetes tipe 1 sampai saat ini belum dapat disembuhkan, tetapi kualitas hidup penderita dapat dipertahankan seoptimal mungkin dengan kontrol yang baik,” tutup dr. Aman.

sumber: kapanlagi.com

Posted on Desember 8, 2011, in Diabet melitus and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: